Masjid Al-Wasilah
Pada awalnya, Masjid Al-Wasilah hanya berupa bangunan sederhana dengan ukuran yang relatif kecil. Meski memiliki keterbatasan dari segi luas dan fasilitas, masjid ini telah menjadi pusat kegiatan ibadah serta tempat berkumpulnya masyarakat untuk melaksanakan salat berjamaah, pengajian, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Seiring bertambahnya jumlah jamaah dan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan tempat ibadah yang lebih layak, muncul keinginan bersama untuk memperluas bangunan masjid. Renovasi dan pembangunan kembali Masjid Al-Wasilah kemudian dilaksanakan pada sekitar tahun 1989 hingga 1990. Proses pembangunan tersebut berada di bawah koordinasi pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) bersama tokoh masyarakat dan warga setempat.
Pembangunan Masjid Al-Wasilah terlaksana berkat semangat gotong royong masyarakat. Sumber dana utama berasal dari sumbangan dan infak warga Desa Bendungan, serta dukungan dari para perantau, khususnya masyarakat yang saat itu bekerja di Korea Selatan. Kontribusi mereka menjadi salah satu faktor penting yang membantu mempercepat proses pembangunan hingga masjid dapat berdiri dengan ukuran yang lebih besar dan lebih representatif.
Hingga saat ini, Masjid Al-Wasilah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, dan pembinaan masyarakat. Keberadaannya menjadi bukti nyata kuatnya rasa persatuan, kepedulian, dan semangat gotong royong masyarakat Desa Bendungan dalam membangun serta memakmurkan rumah ibadah bagi generasi yang akan datang.